Umat Hindu Indonesia menyambut pergantian Tahun Saka dengan melakukan serangkaian ritual keagamaan. Demikian halnya umat Hindu di Kecamatan Ampibabo, seperti umumnya, juga melaksanakan rangkaian upacara Yajna yang berhubungan dengan pergantian Tahun Saka 1934 ke Tahun Saka 1935.
Pergantian Tahun Saka oleh umat Hindu di lakukan jauh berbeda dengan pergantian Tahun yang menjadi dasar perhitungan/Kalender waktu pada umat dan agama lainnya di Indonesia. Pergantian Tahun Saka oleh umat Hindu di peringati dengan pelaksanaan Yajna Nyepi, yaitu Yajna Tapa Bratha Yoga Semadi.
Prosesi Yajna Nyepi, telah di lakukan pada tanggal 10 Maret 2013, di mana umat Hindu di tiga kecamatan, yaitu Ampibabo, Toribulu dan Kasimbar, secara bersama-sama melaksanakan Upacara Yajna Melasti, yang di laksanakan di Pantai Peningka, Desa Laemanta, Kecamatan Kasimbar. Yajna Melasti memiliki makna, pembersihan atau pensucian semua Pralingga dan Pratima di tempat suci (Pura) (Duniawi). Makna terpenting secara Rohaniyah, Melasti, merupakan pelaksanaan dari kewajiban manusia untuk membersihkan dan mensucikan segala perangkat/peralatan atau sarana prasarana yang di gunakan oleh Sang Jiwa dalam melaksanakan kewajiban dan berkreatifitas di muka bumi, agar selalu berada dalam keadaan yang suci dan terkendali.
Upacara ini di hadiri oleh Bupati Parigi Moutong, Samsyurizal Tombolotutu, yang di dampingi oleh Ketua PHDI Kabupaten Parigi Moutong, Drs. I Nyoman Budiasa, M.Si. serta para Camat dari Tiga Kecamatan. Upacara Melasti ini di puput oleh Jro Gde Panca Sandi dari Desa Laemanta.
 |
| |




Sehari sebelum pelaksanaan Hari Nyepi, tepatnya pada Hari Tilem Sasih Kesanga, yaitu tanggal 11 Maret 2013, bertempat di Pura Agung Sari Agung dan Pura Tirtha Wana Giri, umat Hindu di Kecamatan Ampibabo melaksanakan upacara yajna yang di kenal dengan nama Tawur Agung. Upacara ini merupakan rangkaian upacara yang sarat makna bagi seluruh umat Hindu. Secara umum upacara ini merupakan upacara yang di maksudkan sebagai upaya menetralisir pengaruh negatif di alam sekitar - -jin, setan, roh halus, roh kesasar, etc. -- agar tidak mengganggu pelaksanaan Tapa Brata Yoga Semadi yang akan di lakukan oleh Manusia (Umat Hindu). Banyak pendapat di berbagai kesempatan dan media, yang menuduhkan bahwa Umat Hindu memuja makhluk-makhluk halus ini, yang tentu saja ini sangat berbeda dengan maksud dan tujuan dari pelaksanaan ritual ini oleh umat Hindu. Tawur Agung Kesanga adalah upacara yang bermakna menghilangkan pengaruh-pengaruh eksternal dari pribadi umat, agar dalam pelaksanaan brata penyepian, atas Wara Nugeraha Ida Sang Hyang Widi Wasa, setiap umat Hindu tidak menemui hambatan/tantangan. Upacara ini di puput oleh Jro Mangku Pura masing-masing.
Kemudian pada tanggal 12 Maret 2013, adalah puncak dari prosesi pergantian Tahun Saka, di mana seluruh umat Hindu wajib melaksanakan Brata Penyepian, yang di sebut dengan Catur Brata Penyepian, yaitu:
1. Mati Gni -
2. Mati Karya.
3. Mati Lelungan.
4. Mati Lelanguan.
Nyepi merupakan tindakan refleksi dari Sang Diri baik Jasmani maupun Rohani dalam segala kreatifitasnya baik di waktu yang telah terlewati maupun masa yang akan di lalui, untuk mencari dan menerima waranugraha dari Yang Maha Kuasa yaitu Sang Hyang Brahman (Hyang Widhi Wasa).
Selamat Melaksanakan Brata Penyepian, Semoga Hyang Widhi Wasa melimpahkan Wara NugerahaNYA untuk kebahagiaan dan kedamaian Alam Semesta.