Tuesday, August 13, 2013

SELAMAT HARI RAYA PAGARWESI.

Pagarwesi membawa Perintah BRAHMAN kepada Manusia, agar senantiasa  Eling  kepada dirinya.
Eling berarti INGAT, yang bermakna TIDAK LUPA dan TAHU DIRI.
Ingat akan Keberadaan kita sebagai manusia.
Tidak Lupa akan kewajiban kita sebagai manusia.
Tahu Diri, bahwa kita adalah makhluk yang rapuh dari goda dunia.

Dengan Eling akan menumbuhkan kewaspadaan diri.
Dan tanda Orang yang Waspada adalah Dia yang Senantiasa  Membuat serta Merawat  PAGAR bagi Dirinya.

Selamat Hari Raya Pagarwesi, 8 Bhadrapada 1935 Saka || 14 Agustus 2013.
Semoga Brahman Melimpahkan segala wara nugraha-NYA.
Mohon Maaf SEKALA - NISKALA .

Wednesday, June 26, 2013

DI KUKUHKAN: Personalia Pengurus PHDI Pura Agung Sari Agung Buranga.

Setelah melalui tahapan dalam proses pemilihan, akhirnya personalia pengurus Lembaga tertinggi di lingkungan umat Hindu penyungsung Pura Agung Sari Agung Desa Buranga Kecamatan Ampibabo Kabupaten Parigi Moutong, akhirnya di kukuhkan. Seremonial pengukuhan di langsungkan di Utama Mandala Pura terbesar di wilayah tersebut. Di awali dengan pembacaan Surat Keputusan yang di keluarkan oleh Lembaga PHDI Kecamatan Ampibabo dan di tanda tangani oleh Ketua dan Sekretaris.  Kemudian di lakukan Pengambilan dan pengangkatan Sumpah  oleh seluruh personalia pengurus yang baru terpilih tersebut. Pengambilan Sumpah ini di pimpin oleh Ketua PHDI Kecamatan Ampibabo; I Gusti Lanang Putrayasa, S.Sos. yang di dampingi oleh Pinandita/Pemangku Pura ; Ida Bagus Putu Wedana, selaku rohaniawan. Setelah pengangkatan sumpah pengurus, kemudian di lakukan penanda tanganan Berita Acara pengukuhan pengurus yang baru.

Berdasarkan Surat Keputusan PHDI Kecamatan Ampibabo, Nomor: 04/S.Kep/PHDI-Amp/V/2013, Tentang Susunan Personalia Pengurus Parisadha Hindu Dharma Indonesia Pura Agung Sari Agung Desa Buranga Kecamatan Ampibabo,  di tetapkan susunan personalia pengurus yang baru adalah :

1. Ketua : I Nengah Sutika.
2. Sekretaris : I Made Suarta, S.Pd.
3. Anggota : I Made Rentiasa.
4. Anggota : I Made Utara.
5. Anggota : I Made Nita.

1. Ketua  : I Nyoman Konten.
2. Sekretaris : I Nyoman Mardana.
3. Bendahara : I Komang Astion.
  Seksi - Seksi   :

1. Agama dan Peradatan : I Nyoman Raos.
2. Pembangunan : I Wayan Martadana.
3. Pembinaan Dharma Gita. : I Gede Suphala.
4. Pengembangan Seni Budaya : I Made Sumaba.
5. Surati (Tukang Banten)
a. Ketua : Ni Luh Sukariani. b. Anggota : I Gusti Ayu Sri Hartini.
c. Anggota : Ni Made Sukri.
d. Anggota : Ni Luh Widiani.
6. Tukang Patus (Tuk.Tampah) : 1. I Gede Puja.
  2. I Ketut Kada.
7. Elektrika : Gede Budiartawan.
8. Pecalang :
: I Gede Sukada.
: I Wayan Edward.
: I Ketut Chen Su.
: I Ketut Mawan.

Acara pengukuhan ini di laksanakan pada Purnamaning Sasi Sadha, Saka 1935, yang bertepatan dengan tanggal 24 Mei 2013 Masehi. Setelah Pengambilan sumpah,  akan di lanjutkan dengan pelaksanaan pe-winten-an, yang di puput oleh Ida Pandita Mpu Dharma Jati dari Gerya Wana Prasta Buranga. Kegiatan ini memang sudah umum di lakukan setiap pergantian pengurus. Maksudnya agar segala ke letehan yang melekati diri sirna, sehinggadalam melaksanakan tugas dan kewajiban tidak ada serta mampu mengatasi hambatan yang akan timbul, dalam mengemong umat selama 5 tahun mendatang.

Dengan di kukuhkannya  pengurus dari hasil pemilihan secara demokratis oleh umat, berarti pula bahwa umat Hindu di lingkungan Pura Agung Sari Agung menyerahkan kepercayaannya dengan harapan pengurus baru ini dapat lebih fokus dan agresif dalam pembinaan serta pengembangan mental spiritual umat, sehingga secara umum umat Hindu di wilayah ini dapat mengatasi tantangan-tantangan yang semakin hari terasa kiat berat. 

SEMOGA HYANG WIDHI MELINDUNGI DAN MELIMPAHKAN ANUGERAHNYA.

Monday, May 13, 2013

SENGIT : Kandidat Ketua PHDI Sari Agung Buranga Paparkan VISI MISI.

Para Kandidat Ketua PHDI Sari Agung desa Buranga memaparkan visi dan misi mereka di hadapan sebagian umat penyungsung Pura Agung Sari Agung - Buranga, Kamis malam, 9 Mei 2013, menyusul rencana pemilihan dan pembentukan pengurus baru PHDI Sari Agung Desa Buranga  Kecamatan Ampibabo, Parigi Moutong Sulawesi Tengah.

Pemaparan Visi dan Misi para Kandidat berlangsung cukup meriah dan lancar. Masing - masing  memaparkan iming-iming program apa bila mereka di beri kepercayaan oleh umat. Janji pengabdian dan pengurangan beban atas kewajiban organisasi oleh umat berhamburan laksana pendar bintang di malam - malam Sasi Kartika. Antusiasme umat yang hadirpun tak ubahnya gemuruh pasukan yang berhadapan di medan Kuru Ksetra, saat berlangsungnya Maha Bharata. Tanggapan dan pertanyaan umat yang hadirpun atas paparan visi misi kandidat tak ubahnya hujan  anak panah Arjuna yang menyembur dari Gandiwa-nya. SENGIT ...!!!.

Bertempat di wantilan Pura Agung Sari Agung, diskusi di pimpin oleh I Gusti  Lanang  Putrayasa, S.Sos. Setelah acara di buka oleh Ketua Panitia, Paparan visi misi di awali oleh Calon nomor urut 1 ( berdasar hasil lot ), yaitu  I Wayan Redana, dengan pokok paparan  adalah :

1. Melaksanakan Pengabdian dengan Jujur dan Ikhlas.
2. Perencanaan  Program di laksanakan  atas  dasar persetujuan umat
3. Membebaskan kewajiban urunan umat untuk tunjangan pengurus.

Tanggapan dan pertanyaan umatpun khususnya point ketiga, menyangkut  value, teknis pelaksanaan dan  rasa "kecurigaan" atas itikad kandidat bila nanti memimpin umat atas "kemungkinan" lain yang di lakukan oleh pengurus, karena selama ini sudah menjadi aturan tetap bahwa umat memberi tunjangan atas pelaksanaan tugas melayani umat. Juga muncul pertanyaan umat akan kemungkinan "Nepotisme" dalam perekrutan anggota pengurus. Untuk yang terakhir ini I Wayan Redana menjawab ".....tentu saja saya akan merekrut orang yang bisa  saya ajak kerjasama ......".

Sementara kandidat dengan nomor urut 2, I Nyoman  Konten, dalam paparannya menekankan :

1. Berusaha Meningkatkan  Mental Spiritual umat .
2. Melakukan kaderisasi yang berbudi luhur.
3. Melaksanakan kegiatan Dharma Santi umat.
4. Meningkatkan pendidikan keagamaan dengan mengefektivkan pasraman bagi generasi  muda/pelajar.
5. Menjaga dan mengelola aset umat secara baik dan bijaksana, berdasarkan musyawarah umat.

Pertanyaan umatpun beragam, karena setiap pertanyaan harus di jawab oleh kedua pasang Calon secara bergiliran sesuai nomor urut. Yang menarik adalah saat seorang yang menanyakan tentang "...Perbedaan konsep/pola pengembangan agama Hindu di luar pulau Bali...". Kedua pasang kandidat menjawab "tidak berbeda". Tentu saja jawaban ini kurang memuaskan penanya. Bahwa kita suku Bali,.bahwa kita melaksanakan Adat tradisi Bali, bahwa Kitab sucinya adalah sama .."..iya  ". Tetapi Konsep-Pola dalam pengembangan Agama Hindu di luar pulau Bali menganut konsep/pola  "Kahyangan Jagat". Berbeda dengan Bali yang menganut konsep/pola "Tri  Kahyangan".

Saturday, May 11, 2013

MENANTI PENGURUS BARU PHDI SARI AGUNG.

Dalam waktu dekat akan di lakukan pemilihan serta penyusunan personalia pengurus baru Parisadha Hindu Dharma Indonesia ( PHDI ) tingkat Desa di lingkungan umat penyungsung Pura Agung Sari Agung, Buranga. Hal ini telah menjadi pembicaraan hangat di lingkungan umat serta para pemerhati perkembangan lembaga tertinggi di kalangan umat Hindu, khususnya di desa Buranga.
Persiapan telah di lakukan dan panitia pelaksana pemilihan pengurus barupun telah di bentuk. Proses telah berjalan. Umat Hindu di lingkungan pura Sari Agung, dalam rapat umum yang di pimpin oleh Ketua PHDI Sari Agung, I Nyoman Mardana, telah memberi keputusan dan kesempatan serta kepercayaan kepada, I Made Karya Adnyana, 37 tahun, sebagai ketua panitia, di bantu oleh Komang Antarayasa di posisi Sekretaris Panitia dan Ni Luh Budiasmi sebagai Bendahara. Selain itu juga ada beberapa nama figur muda yang masuk sebagai bagian dari panitia.

Seperti di jelaskan oleh Ketua Panitia pemilihan, bahwa proses untuk menentukan figur yang akan ngemong umat Hindu Sari Agung selama lima tahun kedepan telah berjalan; "....prosesnya telah berjalan, ada beberapa orang umat telah mengambil formulir yang kami siapkan. Namun yang masuk pada panitia hanya dua pasang calon............. tetapi kami tetap antusias bahwa pemilihan pengurus ini akan berjalan lancar....!".  Tentu saja ini dapat  memunculkan pertanyaan kritis, melihat jumah umat adalah yang terbesar di wilayah Kecamatan Ampibabo. 

Dari dua pasang calon pengurus yang telah mengikuti tahapan-tahapan pemilihan sebagaimana di atur oleh panitia hingga tahapan penyampaian  Visi  dan  Misi calon, masing-masingnya merupakan figur yang telah memiliki pengalaman dalam memimpin umat beberapa waktu sebelumnya. Yaitu pasangan I Nyoman Konten - I Nyoman Raos dan pasangan I Wayan Redana - I Made Redika.  Untuk masing-masing calon ketua PHDI merupakan figur yang pernah ngemong umat, sementara paket (Pasangan)nya masing-masing adalah sosok figur yang masih aktif dalam kepengurusan organisasi umat, I Nyoman Raos adalah ketua Adat aktif, sementara I Made Redika sebagai ketua Banjar aktif.

Dari beberapa keterangan yang di peroleh, minimnya calon yang memasukan formulir pendaftaran kemungkinan karena aturan paket yang di putuskan panitia dalam pemilihan kali ini adalah Ketua PHDI - Ketua Adat. Lain dari yang lain, biasanya paket pemilihan pengurus PHDI adalah Ketua - Sekretaris, tetapi di sini berbeda. Ini sudah pasti membawa dampak tertentu pada animo calon, karena mencari figur yang paham benar dengan Adat Tradisi ala Bali memang minim. Bukan tidak ada tetapi rata-rata mereka telah berusia lanjut, sehingga tidak memungkinkan di jadikan pengurus.     "..........memang ini kesulitannya, mencari pasangan sebagai calon ketua adat, aturan ini memang tidak seperti biasanya,............. kami hanya melaksanakan keputusan rapat umat yang seperti demikian.....!. imbuh ketua panitia yang akrab di panggil  "Nano" ini.

Melihat keberadaan umat Hindu di desa Buranga ini, khususnya penyungsung Pura Agung Sari Agung, maka seorang pengurus (Pemimpin) merupakan figur penting. Apalagi desa Buranga ini merupakan salah satu kantong Hindu yang secara geografis jauh dari lingkungan umat Hindu lainnya, sehingga sangat di butuhkan sosok pemimpin yang bisa melek beberapa aspek sosial, sehingga umat Hindu tidak hanya menjadi obyek kepentingan sosial pihak lainnya.
 Selamat  dan Sukses yaaa ...!!!.

Monday, April 8, 2013

ANTUSIASME UMAT SAMBUT PROGRAM PHDI PARIGI MOUTONG.

Kegiatan yang di selenggarakan oleh PHDI Kabupaten Parigi Moutong bersama  WHDI dan PERADAH INDONESIA, di sambut antusias oleh umat Hindu di wilayah ini. Terbukti dengan banyaknya umat yang mengikut sertakan keluarga mereka, khususnya di kegiatan Manusa serta Pitra Yajna. Ini sungguh membanggakan sekaligus mengagetkan Pengurus Lembagaterlebih Panitia Pelaksana. Bagaimana tidak, menurut Ketua PHDI Kab.Parigi Moutong  Drs. I Nyoman Budiasa, M.Si. jauh berbeda dari perkiraan awal. Sebut saja untuk Pitra Yajna, pesertanya di taksir hanya pada kisaran 70 hingga 80 sawa (Ngaben dan Ngelungah) ternyata di ikuti oleh 288 sawe. Demikian pula kegiatan Manusa Yajna (Potong Gigi), awalnya di taksir di kisaran 100 peserta, ternyata di ikuti oleh 240 orang. "...sungguh di luar dugaan kami...", demikian ungkapnya.



Kegiatan ini di laksanakan sebagai wujud dari Dharma Agama yang menjadi tugas pokok PHDI serta seluruh organisasi massa di bawah pengayoman Lembaga tertinggi di lingkungan umat Hindu, sekaligus bentuk apresiasi menyambut rangkaian Hari Suci Hindu di tahun 2013, serta rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang mana telah melimpahkan segala wara nugeraha terhadap seluruh ciptaanNYA.


Seperti yang di tuturkan oleh I Ketut Widiasa, S.Pd. yang merupakan Sekretaris PHDI Kabupaten Parigi Moutong, bahwa Sawa (Orang yang meninggal) yang di upacarai saat ini,selain dari keluarga umat Hindu di Kabupaten ini, juga ada yang berasal dari keluarga umat yang berdomisili di daerah lain, seperti Poso, Luwuk Banggai, Toli-Toli, Sulawesi Barat, Kendari dan Bali.

Kegiatan Upacara Potong Gigi dan Ngaben ini, di laksanakan di Setra (Kuburan) umat Hindu di Desa Tolai, Kecamatan Torue. Setra yang pada hari hari biasa memancarkan kesan seram dan angker, untuk beberapa hari ramai di padati manusia, baik Panitia, keluarga umat yang ikut upacara, tamu undangan, dan tentu juga masyarakat sekitar non Hindu.


Hal yang paling menggembirakan adalah sambutan umat Hindu sendiri, begitu antusias. Bila pada masa lalu, pelaksanaan Ngaben yang di lakukan secara masal, mendapat kesan yang cendrung negatif, seperti 'merendahkan martabat keluarga, kurang ikhlas beryajna untuk leluhur, dll, kini mulai berubah. Nampak umat mulai menyadari arti/makna dari sebuah upacara yajna. Di masa lalu, sebuah keluarga bila akan mengupacari leluhur mereka, harus menyiapkan biaya yang tidak sedikit, biasanya memandang martabat keluarga yang bersangkutan, kini Keikhlasan dan Ketulusanlah yang di utamakan. Tentu saja ini tak lepas dari kegigihan para Pengurus Umat (PHDI), Pengelingsir, Pandita dan Pinandita, dalam menanamkan nilai nilai spiritual Hinduisme kepada para penganutnya.

Antusiasme umat ini tergambar dari ungkapan harapan umat  agar kegiatan Upacara Manusa dan Pitra Yajna ini dapat di agendakan sebagai program tetap lembaga PHDI khususnya PHDI Kabupaten Parigi Moutong.

Meski umat tidak di bebani biaya secara khusus, bukan berarti kegiatan yang di laksanakan ini tanpa biaya sama sekali. Di perkirakan dana yang di gunakan untuk membiayai kegiatan ini berkisar antara Rp. 180 - 200 juta. Selain Punia yang tidak mengikat dari para peserta, kegiatan ini  mendapat dukungan dana dari beberapa donatur, selain dari Pemda Parigi Moutong, juga sumbangan dari beberapa tokoh masyarakat, baik pengusaha maupun politisi. Tetapi....Yajna tetap bebas dari politik praktis.