Kegiatan yang di selenggarakan oleh PHDI Kabupaten Parigi Moutong bersama WHDI dan PERADAH INDONESIA, di sambut antusias oleh umat Hindu di wilayah ini. Terbukti dengan banyaknya umat yang mengikut sertakan keluarga mereka, khususnya di kegiatan Manusa serta Pitra Yajna. Ini sungguh membanggakan sekaligus mengagetkan Pengurus Lembagaterlebih Panitia Pelaksana. Bagaimana tidak, menurut Ketua PHDI Kab.Parigi Moutong Drs. I Nyoman Budiasa, M.Si. jauh berbeda dari perkiraan awal. Sebut saja untuk Pitra Yajna, pesertanya di taksir hanya pada kisaran 70 hingga 80 sawa (Ngaben dan Ngelungah) ternyata di ikuti oleh 288 sawe. Demikian pula kegiatan Manusa Yajna (Potong Gigi), awalnya di taksir di kisaran 100 peserta, ternyata di ikuti oleh 240 orang. "...sungguh di luar dugaan kami...", demikian ungkapnya.
Kegiatan ini di laksanakan sebagai wujud dari Dharma Agama yang menjadi tugas pokok PHDI serta seluruh organisasi massa di bawah pengayoman Lembaga tertinggi di lingkungan umat Hindu, sekaligus bentuk apresiasi menyambut rangkaian Hari Suci Hindu di tahun 2013, serta rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang mana telah melimpahkan segala wara nugeraha terhadap seluruh ciptaanNYA.
Seperti yang di tuturkan oleh I Ketut Widiasa, S.Pd. yang merupakan Sekretaris PHDI Kabupaten Parigi Moutong, bahwa Sawa (Orang yang meninggal) yang di upacarai saat ini,selain dari keluarga umat Hindu di Kabupaten ini, juga ada yang berasal dari keluarga umat yang berdomisili di daerah lain, seperti Poso, Luwuk Banggai, Toli-Toli, Sulawesi Barat, Kendari dan Bali.
Kegiatan Upacara Potong Gigi dan Ngaben ini, di laksanakan di Setra (Kuburan) umat Hindu di Desa Tolai, Kecamatan Torue. Setra yang pada hari hari biasa memancarkan kesan seram dan angker, untuk beberapa hari ramai di padati manusia, baik Panitia, keluarga umat yang ikut upacara, tamu undangan, dan tentu juga masyarakat sekitar non Hindu.
Hal yang paling menggembirakan adalah sambutan umat Hindu sendiri, begitu antusias. Bila pada masa lalu, pelaksanaan Ngaben yang di lakukan secara masal, mendapat kesan yang cendrung negatif, seperti 'merendahkan martabat keluarga, kurang ikhlas beryajna untuk leluhur, dll, kini mulai berubah. Nampak umat mulai menyadari arti/makna dari sebuah upacara yajna. Di masa lalu, sebuah keluarga bila akan mengupacari leluhur mereka, harus menyiapkan biaya yang tidak sedikit, biasanya memandang martabat keluarga yang bersangkutan, kini Keikhlasan dan Ketulusanlah yang di utamakan. Tentu saja ini tak lepas dari kegigihan para Pengurus Umat (PHDI), Pengelingsir, Pandita dan Pinandita, dalam menanamkan nilai nilai spiritual Hinduisme kepada para penganutnya.
Antusiasme umat ini tergambar dari ungkapan harapan umat agar kegiatan Upacara Manusa dan Pitra Yajna ini dapat di agendakan sebagai program tetap lembaga PHDI khususnya PHDI Kabupaten Parigi Moutong.
Meski umat tidak di bebani biaya secara khusus, bukan berarti kegiatan yang di laksanakan ini tanpa biaya sama sekali. Di perkirakan dana yang di gunakan untuk membiayai kegiatan ini berkisar antara Rp. 180 - 200 juta. Selain Punia yang tidak mengikat dari para peserta, kegiatan ini mendapat dukungan dana dari beberapa donatur, selain dari Pemda Parigi Moutong, juga sumbangan dari beberapa tokoh masyarakat, baik pengusaha maupun politisi. Tetapi....Yajna tetap bebas dari politik praktis.
Kegiatan ini di laksanakan sebagai wujud dari Dharma Agama yang menjadi tugas pokok PHDI serta seluruh organisasi massa di bawah pengayoman Lembaga tertinggi di lingkungan umat Hindu, sekaligus bentuk apresiasi menyambut rangkaian Hari Suci Hindu di tahun 2013, serta rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang mana telah melimpahkan segala wara nugeraha terhadap seluruh ciptaanNYA.
Seperti yang di tuturkan oleh I Ketut Widiasa, S.Pd. yang merupakan Sekretaris PHDI Kabupaten Parigi Moutong, bahwa Sawa (Orang yang meninggal) yang di upacarai saat ini,selain dari keluarga umat Hindu di Kabupaten ini, juga ada yang berasal dari keluarga umat yang berdomisili di daerah lain, seperti Poso, Luwuk Banggai, Toli-Toli, Sulawesi Barat, Kendari dan Bali.
Kegiatan Upacara Potong Gigi dan Ngaben ini, di laksanakan di Setra (Kuburan) umat Hindu di Desa Tolai, Kecamatan Torue. Setra yang pada hari hari biasa memancarkan kesan seram dan angker, untuk beberapa hari ramai di padati manusia, baik Panitia, keluarga umat yang ikut upacara, tamu undangan, dan tentu juga masyarakat sekitar non Hindu.
Hal yang paling menggembirakan adalah sambutan umat Hindu sendiri, begitu antusias. Bila pada masa lalu, pelaksanaan Ngaben yang di lakukan secara masal, mendapat kesan yang cendrung negatif, seperti 'merendahkan martabat keluarga, kurang ikhlas beryajna untuk leluhur, dll, kini mulai berubah. Nampak umat mulai menyadari arti/makna dari sebuah upacara yajna. Di masa lalu, sebuah keluarga bila akan mengupacari leluhur mereka, harus menyiapkan biaya yang tidak sedikit, biasanya memandang martabat keluarga yang bersangkutan, kini Keikhlasan dan Ketulusanlah yang di utamakan. Tentu saja ini tak lepas dari kegigihan para Pengurus Umat (PHDI), Pengelingsir, Pandita dan Pinandita, dalam menanamkan nilai nilai spiritual Hinduisme kepada para penganutnya.
Antusiasme umat ini tergambar dari ungkapan harapan umat agar kegiatan Upacara Manusa dan Pitra Yajna ini dapat di agendakan sebagai program tetap lembaga PHDI khususnya PHDI Kabupaten Parigi Moutong.
Meski umat tidak di bebani biaya secara khusus, bukan berarti kegiatan yang di laksanakan ini tanpa biaya sama sekali. Di perkirakan dana yang di gunakan untuk membiayai kegiatan ini berkisar antara Rp. 180 - 200 juta. Selain Punia yang tidak mengikat dari para peserta, kegiatan ini mendapat dukungan dana dari beberapa donatur, selain dari Pemda Parigi Moutong, juga sumbangan dari beberapa tokoh masyarakat, baik pengusaha maupun politisi. Tetapi....Yajna tetap bebas dari politik praktis.








No comments:
Post a Comment