Tahun 2013 nampaknya memberi makna khusus bagi seluruh umat Hindu yang ada di Nusantara Indonesia, khususnya bagi penganut Hindu asal pulau Dewata Bali. Bagaimana tidak, sejak hari-hari pertama permulaan tahun, seluruh umat Hindu telah memasuki rentetan
jadwal pelaksanaan hari-hari suci keagamaan. Lihatlah, Minggu pertama Januari 2013, tepatnya tanggal 10, umat Hindu mendapat berkah wara nugraha Hyang Widhi Wasa melalui pelaksanaan Shiva Ratri (Shiva Latri), yang tepat jatuh pada hari Brahaspati (Wraspati) Panglong 14, sehari sebelum (Purwani) Tilem, Sasih Kepitu (Magha) Caka 1934. Tanggal 11 Januari, adalah Tilem kepitu (Sukra, Panglong 15, Magha 1934 Caka). Sehari kemudian pada Sani, Penanggal 1, Phalguna (Kewolu), 1934 Caka yang bertepatan dengan hari Sabtu, tanggal 12 Januari 2013, Umat Hindu merayakan Hari Saraswati, yaitu hari Veda (Ilmu Pengetahuan) Dharma.
Kini pada Budha, Penanggal 5, Phalguna, 1934 Caka yang bertepatan dengan hari Rabu 16 Januari 2013 Masehi, Umat Hindu di Indonesia melaksanakan Hari Pagerwesi, yang secara harafiah berarti Pagar Besi. Pagar di sini membawa makna Pembatas, Pelindung, sementara Wesi atau Besi bermakna Kuat, Tahan, Kokoh, Teguh. Maka bila di maknai secara umum Pagerwesi berarti "Pagar Yang Kuat atau melindungi diri dengan kuat". Rangkaian Hari Suci di awal tahun 2013 ini, merupakan momentum bagi seluruh umat Hindu, dan seluruh alam untuk kembali Eling pada Sang Diri. Eling yang berarti ingat pada asal usul, eling akan keberadaan serta kewajiban (Dharma) yang menjadi tuntunannya.
Seperti pada umumnya, setiap pelaksanaan Ritual Agama pada hari-hari besar Agama, seluruh umat Hindu di Indonesia mendatangi Pura terdekat di wilayahnya, untuk melaksanakan rangkaian ritus agama. Menjadikan diri mereka sebagai bagian dari ritual tersebut. Sehingga ritual sebagai Yajna (kurban suci) seperti yang telah di gariskan oleh Veda, memperoleh berkah wara nugraha Brahman (Hyang Widhi Wasa).
Demikian pula umat Hindu di wilayah Kecamatan Ampibabo, memusatkan seluruh perhatiannya pada Pura yang ada di wilayah ini, yaitu Pura Agung Sari Agung, dan Pura Thirta Wana Giri. Seakan berlomba, anak-anak, Remaja, Dewasa dan orang-orang tua, baik yang terpelajar maupun awam, dengan wajah cerah, mengambil haknya untuk hadir di hadapan Tuhan, seolah-olah, mereka harus yang pertama terlihat olehNYA. Nampak pula hadir di pura, putra dan putri umat, yang kebetulan pada hari hari biasa berada di luar wilayah Ampibabo, baik karena tugas, belajar, dan kegiatan lainnya.
Antusiasme ini, seolah merupakan sebuah gambaran berkah dan perintah dari Hyang Widhi Wasa melalui pembukaan mata bhatin setiap umat Hindu di wilayah ini, untuk bangkit dalam arti luas, memperbaiki diri pribadi, lingkungan, dan alam. Dalam guliran waktu, sejak awal telah di beri kesempatan untuk menata dan mempersiapkan diri, agar kuat menghadapi godaan yang secara umum begitu kuat menarik kita pada keterikatan duniawi. Melindungi diri dari segala pengaruh yang mengakibatkan jatuh pada Kesesatan Fikiran, Kesesatan Perkataan, dan Kesesatan Perbuatan.
Semoga Brahman, (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) Tuhan yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui, melimpahkan segala Wara NugrahaNya untuk keajegan Dharma.
Semoga Brahman, (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) Tuhan yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui, melimpahkan segala Wara NugrahaNya untuk keajegan Dharma.
No comments:
Post a Comment