Tuesday, January 8, 2013

Program Kerja PHDI Kecamatan Ampibabo.

Kecamatan Ampibabo merupakan salah satu kecamatan yang di pilih oleh warga etnis Bali sebagai tempat berdomisili dan menata hidup serta penghidupan mereka. Keberadaan warga asal pulau Bali ini memang sudah sejak lama, yaitu sejak tahun 1974, meskipun kegiatan survey dan analisa potensi sudah di lakukan sejak 1973.

Hingga saat ini, mobillitas dari penduduk Kec. Ampibabo etnis Bali ini tetap terjadi dengan prosentase yang tidak bisa di katakan rendah, sekitar 0,5 - 1,25 %/tahun dari 1737 jiwa yang ada di wilayah Kecamatan Ampibabo ini. Pergeseran penduduk ini adalah yang masuk dan keluar wilayah ini.


Dari 15 desa yang ada di wilayah kecamatan Ampibabo ini, Desa Buranga merupakan desa yang memiliki jumlah penduduk etnik Bali terbesar. Memang desa ini adalah desa pertama yang menerima program transmigrasi, yaitu sejak tahun 1974 tersebut. Secara etnik, 3/4 dari penduduk desa ini adalah etnik Bali. Sementara desa desa lainnya jumlahnya relatif lebih kecil, dan belum memiliki Pura sebagai tempat peribadatan mereka, sehingga pada hari hari suci agama Hindu, mereka menuju ke desa Buranga.

Secara geografis, desa Buranga berada di tengah tengah wilayah kabupaten Parigi Moutong, yang berhadapan langsung dengan wilayah perairan/garis pantai Teluk Tomini. Saat ini desa Buranga telah menjadi salah satu desa yang menjadi icon perekonomian di wilayah kecamatan Ampibabo, dan kabupaten Parigi Moutong pada umumnya. Buranga merupakan desa yang memiliki potensi simber daya alam yang besar, yang di kembangkan seluas luasnya sebagai daerah pertanian dan perkebunan. Keberadaan warga etnis Bali imipun  di akui telah memberi kontribusi yang sangat besar bagierkembangan pembangunan wilayah dan perekonomian secara umum. Dengan ethos kerja warga asal Bali ini, telah mampu memberi sumbangsih perubahan, dari wilayah desa belantara dan rawa menjadi desa ekonomi produktif.

Etnis Bali yang mendiami wilayah ini, pada umumnya masih bertahan dan berusaha mempertahankan agama/keyakinan yang mereka warisi dari leluhur mereka di pulau Bali, yaitu Agama Hindu. Dalam pelaksanaan peribadatan umat Hindu di wilayah kecamatan Ampibabo ini, berkonsentrasi di desa Buranga, dimana terdapat Pura yang di bangun dengan konsep Khayangan Jagat. Di desa ini terdapat 2 buah pura yang statusnya sebagai khayangan jagat, yaitu Pura Agung Sari Agung  dan Pura Tirtha Wana Giri. Selain pura khayangan jagat tersebut, terdapat pula 2 buah Pura Prajapati, yang statusnya menurut tatwa agama hindu sebagai ulun Setra (kuburan).

Keberadaan umat Hindu di wilayah ini, secara tidak langsung mendorong tumbuhnya tuntutan keberadaan dari sebuah lembaga yang berwenang untuk menata, dan menetapkan segala ketentuan yang menjadi pedoman dalam pelaksanaan dasar dasar keyakinan (Sradha) umat pada aspek Filsafat, Ritual, dan Etika. Untuk menjaga dan melestarikan Sradha, Budaya dan Adat istiadat, disinilah peran PHDI sebagai Majelis tertinggi di lingkungan umat Hindu sangat di butuhkan.

Dalam Statusnya sebagai lembaga keagamaan, PHDI di wilayah transmigrasi di perhadapkan pada sebuah kondisi serta situasi yang sering mewujudkan dilema. Di satu sisi bahwa lembaga ini wajib berusaha dan mengusahakan agar tuntunan hidup umat yang utama yaitu Weda  dapat terlaksana dan di pahami dengan baik oleh umat. Sementara di sisi yang lain, bahwa perkembangan zaman yang di tandai  dengan perkembangan iptek materialism, telah melahirkan sebuah peradaban yang di namai sebagai Modernitas, yang memaksa sebagian besar umat manusia untuk lebih mengarahkan pandangannya keluar , demi tercapainya kemajuan material. Di samping itu, lembaga PHDI dalam pelaksanaan hak dan kewajibannya, dalam pelayanan umat, baik kedalam maupun keluar, di benturkan pula dengan kenyataan Sumber Daya yang memang masing terkategori di bawah rata-rata harapan. Ini menjadikan pelaksanaan pelayanan umat menjadi tersendat.

Kendala yang di hadapi para personalia pengurus PHDI di daerah kantong umat memang tidak bisa di pandang remeh. Tetapi bagi para pengurus lembaga, kendala tersebut merupakan tantangan yang menjadi guru utama, untuk menyiapkan strategi ke depannya.

PHDI Kecamatan Ampibabo berada di bawah ayoman PHDI Kab. Parigi Moutong, yang berkedudukan di desa Buranga Kec. Ampibabo, serta mengkoordinir 2 PHDI Desa dan 2 Pengempon Pura. Sebelumnya PHDI Kec. Ampibabo ini, membawahi 11 PHDI Desa, tetapi kini telah berubah mengikuti perubahan wilayah pemerintahan karena pemekaran, yang kini terbagi menjadi 3 kecamatan, yaitu Kec. Ampibabo, Kec. Toribulu serta Kec. Kasimbar. Meskipun demikian, pelaksanaan pemelastian tetap di lakukan bersama sama di satu tempat, yaitu di Pantai Peningka.

Program Kerja.

Sebagaimana yang telah di tetapkan, program kerja PHDI Kec. Ampibabo mengacu pada setiap keputusan Mahasabha, Lokasabha Propinsi, Lokasabha Kabupaten, Serta keputusan yang di ambil secara sah dan bijaksana melalui paruman pengurus dan paruman walaka. Secara umum program kerja ini dapat di bagi kedalam 2 bagian utama yaitu ; Dharma Agama dan Dharma Negara.

Dharma Agama adalah program kerja lembaga PHDI Kec. Ampibabo, yang berhubungan dengan bidang ke agamaan serta merupakan tugas utama. Ini bersifat intern, yang di dalamnya meliputi program Pembinaan, Penyuluhan, Pengayoman, Pendidikan, Yajna, dan Legislasi aturan, serta Pendataan (cacah) umat di wilayah kecamatan Ampibabo.

Sementara itu, Program Dharma Negara, adalah program kerja PHDI Kec. Ampibabo yang merupakan implementasi hak serta kewajiban umat hindu terhadap tanah airnya, tumpah darahnya, negaranya, serta bangsanya, secara umum. Program ini merupakan program tekstual dari partisipasi Umat Hindu dalam pelaksanaan Pembangunan bangsa dan negara, material dan immaterial. Melakukan Koordinasi, Konsolidasi dan Komunikasi dengan lembaga Pemerintah, lembaga lembaga agama, dan lembaga adat istiadat yang ada di wilayah kec. Ampibabo.

Program program tersebut memang masih sangat jauh dari harapan semua pihak, tetapi perlu di sadari bahwa inilah kenyataan yang harus di terima. Walaupun demikian bukan berarti kita harus pasrah menerima segala kekurangan dan kelemahan itu. Kita harus menyadari bahwa tidak ada keberhasilan yang begitu saja jatuh dari langit, tanpa usaha yang kuat dan keras serta berkesinambungan dari kita semua.

No comments:

Post a Comment